


“Wahai anakku, apakah kebenaran itu ? ”
“Wahai ayahku kebenaran itu adalah menyingkirkan yang mungkar (keburukan) dengan yang ma’ruf (kebaikan)“
“Apa Kemuliaan itu ? “
“Menyambung Hubungan Kekerabatan, sabar menghadapi kejahatan, menciptakan keselarasan dengan teman dan menjaga hubungan dengan tetangga “
“Apa Kesatriaan Itu ?”
“Menjaga kehormatan diri dan menata Ekonomi”
“Apa kehinaan itu ?”
“Melihat yang mudah dan tidak memberi orang yang tak punya”
“Apa Kerendahan Itu ?”
“Seseorang menampakkan Aib dirinya”
“Apa tenggang rasa itu ?”
“Mengeluarkan sedekah saat lapang dan sempit”
“Apa Kikir itu ?”
“Seseorang menganggap sedekah yang dikeluarkannya, sebagai harta yang hilang”
“Apa Persaudaraan itu ?”
“Saling Tolong-menolong”
“Apa Kecil Hati itu ?”
“Berani terhadap orang yang jujur dan takut menghadapi musuh”
“Apa harta Rampasan itu ?”
“Hasrat dalam takwa dan zuhud di dunia merupakan harta rampasan yang paling mudah didapat tanpa bersusah payah”
“Apa kelemah lembutan itu ?”
“Menahan amarah dan menguasai diri”
“Apa kekayaan itu ?”
“Kepuasan Hati terhadap apa yang diberikan kepadanya meski hanya sedikit. Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan Jiwa”
“Apa Kemiskinan itu ?”
“Keinginan jiwa terhadap segala sesuatu”
“Apa Keperkasaan Itu ?”
“Melawan orang yang dianggap paling kuat”
“Apa Kehinaan Itu ?”
“Gelisah ketika Jujur”
“Apa Kegaduhan Itu ?”
“Omong Kosong dan banyak berdahak saat berbincang-bincang”
“Apa pemaksaan diri itu ?”
“Jika Engkau mengatakan sesuatu yang tidak engkau perlukan”
“Apa Kemurahan Hati itu ?”
“Engkau memberi pada saat merugi dan memaafkan kesalahan”
“Apa Akal itu ?”
“Menjaga isi Hati”
“Apa Gegabah itu ?”
“Jika Engkau Memisahkan diri dari pemimpinmu dan engkau mengangkat pedang yang tajam kepadanya”
“Apa Penyabab Pujian ?”
“Melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk”
“Apa Keteguhan hati itu ?”
“Banyak sabar dan lemah lembut terhadap pemimpin”
“Apa Kebodohan itu ?”
“Kehinaan dan berkumpul dengan orang-orang yang sesat”
“Apa Kelalaian itu ?”
“Jika Engkau meninggalkan Masjid dan patuh terhadap orang yang berbuat kerusakan”
“Apa Nasib Buruk itu ?”
“Jika engkau mengabaikan bagianmu, padahal ia sudah ada didepanmu”
“Bagaimana Orang dungu itu ?”
“Orang yang mengumbar harta dan meremehkan kehormatan dirinya”

“Wahai pencari ilmu, sesungguhnya orang yang berbicara tidak lebih mudah jemu daripada orang yang mendengarkan. Maka janganlah kau buat orang-orang yang ada disekitarmu menjadi jemu ketika engkau berbicara kepada mereka.
Ketahuilah bahwa hatimu merupakan sebuah bejana, maka perhatikanlah apa yang diisikan kedalam bejanamu.
Kenalilah dunia dan buanglah dia di belakangmu, Karena dunia bukan merupakan tempat tinggalmu, dan apa yang ditetapkan bagimu tidak ada di sana. Dunia dijadikan sebagai perantara hidup hamba, agar mereka mencari bekal darinya untuk tempat kembali.
Hai Musa, letakkanlah dirimu pada kesabaran, tentu engkau akan selamat dari dosa.
Wahai Musa, pusatkanlah minatmu pada ilmu kalau engkau memang menghendakinya. Sesungguhnya ilmu itu bagi orang yang berminat kepadanya.
Janganlah engkau menjadi mudah kagum terhadap perkataan yang disampaikan secara panjang lebar, karena banyak perkataan mendatangkan banyak aib bagi orang yang berilmu dan dapat membocorkan rahasia yang mestinya ditutupi. Tetapi semestinya engkau berkata sedikit, karena yang demikian itu merupakan taufiq dan kebenaran.
Berpalinglah dari orang yang bodoh, dan bersikap lemah-lembutlah terhadap orang yang dungu, karena yang demikian itu merupakan kelebihan para ahli hikmah dan hiasan orang-orang yang berilmu.
Jika ada orang bodoh yang mencacimu, diamlah didepannya lalu menyingkir dari sisinya secara hati-hati, karena kelanjutannya tetap menggambarkan kebodohannya terhadap dirimu dan caciannya akan semakin bertambah gencar dan banyak.
Wahai anak keturunan Imran, janganlah kamu terlihat memiliki ilmu kecuali hanya sedikit. Sesungguhnya asal keluar dan asal berbuat merupakan tindakan menceburkan diri kepada sesuatu yang tidak jelas dan memaksakan diri.
Wahai anak Imran, janganlah engkau sekali-kali membukakan pintu yang tidak engkau ketahui untuk apa pintu itu ditutup, dan jangan tutup pintu yang tidak engkau ketahui untuk apa pintu itu dibuka.
Wahai anak imran siapa yang tidak berhenti dari dunia maka dunia itu akan melahapnya. Mana mungkin seseorang akan menjadi ahli ibadah kalau hasratnya kepada dunia tidak pernah habis? Siapa yang menghinakan keadaan dirinya, manamungkin akan menjadi orang Zuhud? Adakah orang yang telah dikalahkan oleh hawa nafsunya akan berhenti dari syahwat? Mana mungkin pencarian ilmu masih bermanfaat bagi orang yang dipagari kebodohan?
Perjalanan akan menunjuk ke akhirat dengan meninggalkan Dunia.
Wahai Musa, belajarlah apa yang engkau amalkan, agar engkau mengamalkannya dan janganlah engkau menampakkan amalmu agar engkau disebut-sebut, sehingga engkau mendapat kerusakan dan orang lain mendapatkan cahaya.
Wahai anak imran, jadikanlah Zuhud dan taqwa pakaianmu, jadikanlah ilmu dan dzikir sebagai perkataanmu, karena yang demikian itu membuat Rabb-mu ridha.
Berbuatlah kebaikan, karena engkau juga harus melakukan yang lainnya. Engkau telah mendapatkan nasihat bila engkau menghapalkannya. “
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –
Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya.
Ia berkata, “Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!”
Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”
Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”
“Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah,” ucap Ibrahim.
Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, “Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?”
“Benar,” jawab Ibrahim dengan tegas. “Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?”
“Baiklah,” jawab Jahdar tampak menyerah. “Kemudian apa syarat yang kedua?”
“Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya,” kata Ibrahim lebih tegas lagi.
Syarat kedua membuat Jahdar lebih kaget lagi. “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”
“Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?” tanya Ibrahim.
“Kau benar Aba Ishak,” ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat ketiga?” tanya Jahdar dengan penasaran.
“Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat bersembunyi dari-Nya.”
Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”
“Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?” tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi’ah tidak berkutik dan membenarkannya.
“Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?” “Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh.”
Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, “Tidak mungkin… tidak mungkin semua itu aku lakukan.”
“Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?”
Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu.
“Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”
Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “Cukup?cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah.”
Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu’.
Ibrahim bin Adham yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut.
Selanjutnya, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi’ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, “Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku.”
Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, “Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi?”
Ibrahim bin Adham menjawab, “Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana.” Betapa kagetnya Jahdaar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, “Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku. Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya.”
Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi’ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya.